Showing posts with label Pieces of Me. Show all posts
Showing posts with label Pieces of Me. Show all posts

2.11.2014

Dunia Rata.

Aku mau pulang... Tapi pintunya ditutup.
Aku tak tahu, apakah kuncinya masih ada, atau malah sudah dibuang.
Aku melempar sandal,
berjalan belum terseok.
Tapi semua sendi melorot sampai mata kaki.
Kenapa sih... kadang Tuhan menciptakan hal yang tak perlu.
Pada akhirnya berakhir di pembuangan dan jadi limbah,
bukan lagi sampah.

Kalau nanti sudah selesai...
Terputusnya lajur dari limpahan oksigen.
Maka jangan lagi ada yang ditertawakan.
Karena hidup adalah lelucon slapstik.
Kamu tertawa atas apa yang diderita yang lain.

Sudah lama sebelum menyadari,
bahwa aku melihat dunia rata.




Yogyakarta, 12 Februari 2014



2.07.2012

Melancho(holic)


Murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah...


Lalu, melancholia datang tanpa permisi, ga pake ngetuk, apalagi basa-basi..

Daripada nelangsa, kulangkahkan kaki kepersinggahan favoritku

Suasananya remang tapi bukan warung remak-remang

Banyak orang terkotak-kotak disana,

Mereka menggodaku, semua dan serempak

Keyes, King, Christhie, Sheldon, Albert, Pram, Stephany, Dee, Rusli, Muis dan lainnya mengerubungiku

Minta digoda dan dijamah

Bahkan mungkin juga minta diperkosa

Maaf, aku hanya bisa memerkosa kalian satu dulu, atau mungkin beberapa

Itu pun kalau aku kuat

"ah, tapi kamu selalu kuat."

Kata C.S Lewis, si Anglo-Irlandia

Maaf Lewis, malam ini aku tak tertarik denganmu.

Aku meraih Claudia, tapi tiba-tiba Calon Arang berteriak dari ujung sana,

"Binal!!! Aku hanya kau lirik, dasar nista!!"

Ah, si dukun itu, nantilah, kau sudah berkali-kali kubaca

Aku tetap meraih Claudia, si pasien rumah sakit jiwa yang cerdasnya tiada tara

Lalu, disana kami bercerita sambil sesekali saling mengelus punggung tangan

Aku biasa saja,

Claudia tidak biasa.

Respon tubuhnya terasa sedikit bergetar.

"Claudia, santai, aku hanya ingin kita berbagi murung."

Claudia tersenyum miring dan meredam hasratnya yang belok.


"Kalau kau murung, apa yang kau perbuat?"

Claudia memperlihatkan pergelangan tangannya, "self injury. Asik, nikmat."

Ada berpuluh goresan panjang mengerikan berwarna merah muda disana.

Aku menatapnya sok wajar, padahal dari ujung rambut sampai ujung vagina, sangatlah terasa ngilu.

"Kamu?"

Aku mengangkat bahu, "banyak. Bisa menyendiri, bisa menulis, bisa mencipta lirik lagu, bisa membenamkan kepala lama-lama di dalam bak, bisa konsentrasi membuat kentutku bersuara lebih baik.."

Claudia memutar bola matanya, "membosankan."

"Kalau kau senang, apa yang kau ekspresikan?"

Claudia bertanya tentang 'senang'.

Tahukah, yang biasa dipertanyakan seseorang adalah yang jarang mereka rasakan.

"Wajahku jadi mirip si Margareth."

Margareth si periang yang berseri.

"Hanya itu saja?"

Cemooh, sarkas, tapi penasaran.

Aku menatapnya prihatin, "Buatlah jadi merasakan."


Aku terdiam, kami terdiam.

Strawberry smootiesh tidak ikut diam, ia berteriak minta dicicip.


Inilah yang namanya menikmati murung, bagaimanapun caranya.

Malam ini hanya aku dan Claudia.



Nikmatilah saja kegundahan ini

Segala denyutnya yang merobek sepi

Kelesuan ini jangan lekas pergi

Aku menyelami sampai lelah hati


(Melancholia, Efek Rumah Kaca)




12.11.2011

La maison de mon rêve.

il n'y a pas de clôture,
il n'y pas de portes,
sans fenêtre,
Il n'ya que moi,
et mon souffle,
propres.

Et maintenant nous sommes tout seuls
Perdus les rêves de s'aimer
Le temps où on avait rien fait
Il nous reste toute une vie pour pleurer
Et maintenant nous sommes tout seuls.



9.29.2011

selamat pagi di pengakhiran.

Merasakan yang paling sakit di ulu hati bukan atas lisan yang tersembur, tapi,
karena ternyata harus mengakhiri mimpi yang telah di buat panjang

Bangunlah!

Bukan waktunya untuk jatuh karena berdamai dengan diri sendiri pun belum berhasil.

Mengakhiri mimpi,
membakar kertas skenario yang dirancang jauh hari,
menghujamkan mata pisau lebih dalam lagi,
menutup mata dari tatapan kosong di pengakhiran
bukan ini yang di mau,
sakitnya bukan kepalang bahkan untuk jangka yang panjang.

terimakasih untuk pembaringannya hingga sempat bermimpi indah

9.24.2011

Yang belum terjawab, dan masih koma,

Orang -orang yang memakai topeng, atau aku yang sendirian bertopeng?
Sedikit mengesalkan ketika terbangun ternyata bumi masih berputar dari kiri ke kanan, atau kanan ke kiri?
Mengapa ketika terbangun langit tidak abu dan hujan tidak turun?
Mengapa anak tetangga sebelah tetap menangis di pagi hari, di tempat dan jam yang sama?
Mengapa aku masih memutar lagu yang sama di list itunes-ku?
Mengapa aku masih mencintai orang yang sama dan membenci wajah yang sama?
Mengapa semua sepertinya memang harus berjalan begitu adanya dan tidak ada yang 'menyengat'?
Bolehkah?

Ketika ku seduh kopi, kenapa kopinya masih sama?
Ketika aku menyapa teman, kenapa kalimat sapanya masih sama?
Ketika aku menyalakan TV, kenapa program favoritku masih sama?

Mengapa tidak ada yang mengetuk pintu, dan memberiku kejutan 'menyengat'?


8.30.2010

Lebaran nanti.


Ceritanya ini kan puasa yang ke duapuluhsatu ya, tapi kenapa gw ga ngerasa udah lama dah? Kayanya baru kemaren-kemaren mulai puasa, n lebaran masih jauuuuuuh di depan mata. Tau-tau nyokap gw ngesms, "neng, mo pulang kampung duluan apa rame-rame?". Aiiih ternyata lebaran bentar lagi, kurang lebih sepuluh hari lagi. Ade gw dirumah dah ribut-ribut pengen baju lebaran ma mukena baru. Gw cuma nyengir-nyengir aja, waktu bocah juga gw gitu. Malah kemaren-kemaren ikut ribut juga minta jatah baju lebaran.
Tapi ada yang bikin gw sedih buat lebaran kali ini.. Pertama, nenek gw meninggal beberapa bulan yang lalu, padahal rumahnya itu jadi basecamp buat keluarga besar n almarhumah satu-satunya alesan para keluarga buat pada ngewajibin mudik ke Garut n ngumpul. Kita suka bikin acara-acara seru, kaya outbound, tuker kado, turnamen futsal, atau gathering food. Dengan jumlah sodara sepupu yang seabrek-abrek nandingin jumlah orang sekampung, tentu aja acara keluarga jadi rameeee banget! Tapi sekarang emak (sebutan gw ke nenek gw) udah ga ada, jadinya pada males-malesan mudik deh. Keluarga gw aja berencana lebaran di Bekasi aja, baru udahnya pulang kampung. Yaaah,, takbiran ga bakal serame taun kemaren deh.
Alesan kedua yang bikin sedih, sepupu-sepupu gw satu persatu pada kawin n ga asik lagi di ajak gokil-gokilan. Udah gitu yang cewe pasti pada ikut suami pulang kampungnya. Padahal umurnya ga pada jauh dari gw, tapi ngapa pada kawin cepet sih?? aneh ah. Yang masih lajang bisa di itung pake jari deh! Palingan nyisa bocah-bocah skalian ma ponakan gw yang sama bejibunnya ma tante n omnya. Sedih sedih,, tapi mau gimana lagi?
Ternyata waktu buat gw berjalan cepet banget, entah karena gw yang easy going, atau juga yang bawaannya bahagia mulu. hahahaha, gaya amat ya.
Jadi inget waktu bocah dulu, dengan jumlah sepupu yang sama jumlahnya sama 2 kesebelasan sepak bola, (malah kayanya lebih n bakal nambah lagi ni), kita biasa tidur rame-rame sampe numpuk-numpuk, mandi juga kadang rame-rame. N seperti biasa, gw selalu jadi bocah paling rese yang bikin onar mulu. Entah itu nyemplung-nyemplungin ketupat mateng ke kolam ikan,, nyomot-nyomot kue kering buat tamu,, bikinin tamu minum pake aer mentah,, pokonya troublemaker lah kalo kata tante-tante gw...
Jadi kangen masa kecil gw,, bahagia banget kayanya.. tapi ya sudahlah, sekarang jalanin yang didepan mata aja.. Dan mau ga mau gw harus nerima apapun keadaan pas lebaran nanti... Apakah bakal sepi,, atau sekalian aja gw ramein lagi, yang penting, kita sambut lebaran dengan niat yang suci...