11.26.2012

Manusia (tidak) bertopeng.

Manusia pagi tak seramah pancaran sinar pertama matahari.
Mereka adalah paradoks dari gradasi cahaya itu sendiri.

Ibu-ibu bertubuh gemuk cemberut dimuka pintu rumahnya.
Tanpa sapa atau basa basi untuk ucap selamat pagi.

Menyusuri jalan untuk membeli semangkuk bubur kacang hijau,
lelaki bermotor merah melambatkan lajunya, memutar balik arah dan mengikuti langkahku pergi.
Bersiul menjijikan.
Rendahan, seperti biasa sejenisnya bertingkah.

Disebuah warung yang benderang dan tak remang,
lagi-lagi tingkah polah tetap rendah,
mata-mata yang memandang seperti ingin menelanku bulat-bulat
seperti menembus berhelai lapis sandang,
apalagi jikaku benar-benar telanjang?

Pemilik warung benderang yang pongah pun ikut ambil bagian,
permintaan serba ditiadakan,
satu penawaran dianggap seribu beban.

Pagi ini aku menemukan manusia-manusia yang belum sempat mengenakan topengnya.
Paradoks dari gradasi cahaya matahari,
tanpa topeng dipangkal pagi.





05.25 a.m

11.15.2012

Gloomey.

Menyembah bayangan dan siluet yang tak terdefinisi bahkan oleh ilusi.
Lalu menari dipekuburan.
Menjejak nisan tak bernama.
Dari leher yang terkulai pasrah ditali.
Selamat melangkah dari dunia penuh piksel ke dunia monokrom.




Poetry  : Jayu Julie
Draw   : Gelar Agryano Soemantri

11.11.2012

Kota yang Didekap Sunyi.



Colaboration :
Poetry : Jayu Julie
Foto    : Adnan Roesdi
Design : Rukii Naraya

11.08.2012

Belanja Kelamin*

Semalam tadi ia sang robot tak bermesin tanpa telinga kehabisan pelumas pada putaran geriginya, 
berlari ia ke supermarket seberang dan membuka pintu hingga engsel saling beradu,

ngik ngik ngik,

sisa pergumulan semalam dengan pelacur hylozoist membuatnya kehabisan tenaga,
dilucutinya harga diri dari yang tak lagi berharga

ia memiliki pelumas tapi ia tak memiliki kelamin
maka ia ingin membeli pelumas dan kelamin

ia ingin kelamin

di supermarket ini ia melihat kelamin digantung dimana-mana
berbagai kemasan terdisplay sesuai harga

ia ingin kelamin

ia ingin kelamin yang tak harus lagi dirangkai secara manual
tapi pelumas terlanjur mengering dan ia pun tersengal.

Lalu jatuh teronggok menjadi rongsok.





18 September 2012
*salah satu kumpulan teks untuk Antologi #Batpoet dan lirik lagu proyek kolaborasi dengan Gilang TP.

11.05.2012

Sekantung delusi di kantong kresek.



Sekantung delusi, mengobrak-abrik pagi./Air dari bola mata yang berkaca dan seuntai doa, untuk namaNya yang tak lagi disebut dengan takzim./Sajian dehidrasi./bermiligram dari sebutir untuk sarapan panjang dihari yang singkat./

Berapa yang sudah terselesaikan?/Dari berbagai tawaran majemuk./dari agresi rudal beberapa pesawat jet tempur berbeda./memborbardir labirin kesadaran./terselesaikan sampai akhir atau hanya sekedar euforia?/

Saat seorang ayah dengan airmuka lesu dan murung,
mengenggam boneka jerapah yang telah lusuh,
saat seorang lelaki yang keyakinannya telah hilang,
membuatkan lagu dengan sendu tanpa judul.

Saat yang lain hanya tahu bahwa mainan serupa jam tangan,
saat yang lain tahu bahwa fraktal hanya sekedar pecahan geometris,
saat yang lain hanya tahu tentang sepatah kata diungkapkan tanpa makna yang berarti,
disaat itu pula pecahan-pecahan alterego mulai berebut ambil posisi.
didalam sini dengan oase serotonin yang kadang mengering dan kadang meluap.

Karena berhala-berhala kini lebih bernyawa,
membaur menjadi manusia-manusia hylozoist,
masing-masing meyakini bahwa mereka berada ditangga paling atas,
atau setidaknya lebih atas...

Tak pernah ada penjara yang pantas untuk mengurung seorang kriminal yang diakui sebagai manusia baik dikoloninya.
Walaupun ia telah membunuh orang yang paling menyayanginya.
Walaupun ia telah-hampir melenyapkan nyala api yang kecil pada sebatang lilin kehidupan.




5 Movember 2012


10.30.2012

Segitiga.



Seorang residivis yang divonis hukuman mati kabur dari tahanan, lari ke hutan dan tersesat hingga dehidrasi.
Tiga hari terkapar di atas dedaunan kering. Luka yang memborok, pandangan yang kian kabur.
Dalam hati ia berdoa, "Tuhan, utuslah seseorang untuk menolongku. Tolonglah aku dengan caraMu"
Tapi hatinya yang lain sangsi atas apa yang ia minta.
"Ya, terserah cara-Mu."

Saat senja, seorang gadis kecil menghampiri, residivis bersorak dalam hati.
Dalam bias pada retinanya, gadis kecil itu seperti malaikat tak bersayap.

Kini mereka dalam jarak hanya 3 langkah.
Residivis tersenyum pada gadis kecil, "terpujilah malaikat penolongku."
Gadis kecil tersenyum pada residivis, berkata dalam hati,

"Malam ini kami akan makan daging. Akhirnya."

10.26.2012

Tentang 'Kanibal'.

Tepat pukul 4 sore, saat kopiku telah setengah cangkir lagi, saat bau sate mulai menguar dari dapur, dan saat Kurt Nyobain menunjukkan durasi 3 jam lebih 14 menit, akhirnya Kanibal-ku rampung. Menyelesaikan tulisan yang tak seberapa itu -buatku- ternyata membutuhkan waktu lebih dari 72 jam. Hingga ke titik terakhir pada paragraf terakhir, tanpa footnote. Itu belum termasuk penundaan dan jeda panjang atas alasan mood swings yang selalu memenangkan kendali.

Kanibal harusnya untuk 11 November-ku. Panjangnya hanya 1500 kata. Dengan pergantian judul sebanyak 9 kali, dan skripsiku sendiri berganti judul sebanyak 7 kali.

Kanibal bercerita tentang... atau menceritakan tentang... 
Entah apa yang mungkin disebut Sapardi sebagai tulisan yang terlalu emosional. Yang konon katanya beliau sendiri jika menulis selalu tanpa emosional. Bagaimana bisa?? Jika sepenggal sajaknya saja bisa menjadi begitu fenomenal dan melekat kuat dibenak para pendayu-dayu!

Kanibal ini...
Mungkin terlalu berlebihan jika aku menulis 1500 kata saja dengan menghabiskan beberapa hari. Karena yaa seperti disebut di awal, tulisan ini terlalu melibatkan ke-emosional-anku. Hingga mungkin sama sekali tak ada humor didalamnya kecuali sarkasme yang terkesan dipaksakan. Seolah-olah tulisan ini adalah tulisan terakhir seseorang yang sebentar lagi bunuh diri. 

Bagaimana rasanya menjadi penyendiri yang menyukai rasa sakit?
Ketika orang lain membaur dalam euforia kebebasan, ia sendiri malah mencari lautan nestapa untuk tenggelam dalam paradoks euforia itu. 
Ketika hidupnya dia bungkus dalam kotak monokrom,
Buku-buku di rak ia ganti menjadi pion-pion catur yang diletakkan secara acak.
Ketika ia lebih senang melihat ikan yang telah mengapung dengan perut yang menggembung di akuarium.
Dan ketika ia mulai merasa bosan, ingin sesuatu yang segar..... seperti daging.
Daging merah yang berkebalikan dengan dunia monokrom-nya.

Kanibal buatku seperti...
Seperti berlibur ke-lautan metafora. 
Dimana kita bisa tenggelam dan mengapung,
sesuai kadar garam untuk memerihkan luka.



Penghujung Oktober,
gelap gulita di Phantasmagoria.

*Pengantar tulisan ke 8, antologi 'Sirkus Alterego'